Pages

Minggu, 05 Mei 2013

Kedewasaan dari kemerdekaan (narasi diri dari negri ini)


Aku lahir dijarak 77 dan 78, disebuah negri yang dihuni mitos-mitos kecemasan. Rakyatnya raga-raga polos yang dipimpin oleh sikap-sikap pelontos.
Kakekku berkuku bambu, petarung gunung (seorang patriot yang dianggap negara ini idiot). Kemudian kakekku mati dan dikubur di samping nisan anjing penjaga tanah kapling. Nenekku seorang yang lugu, bekerja menjadi babu si mata biru, serdadu yang senang makan dari piring orang. Tanteku pelacur terhormat, pemuas syahwat para birokrat. Sedangkan pamanku mucikari para priyai, ahli mengaji ayat-ayat agitasi.
Masa kecilku dihabiskan dengan tangisan hutan. Menetek di sapi-sapi. Ditimang oleh nyanyian batuk para datuk.
Aku selalu mencuri-curi jarum jam, berganti-ganti kebodohan agar aku cepat mencapai kewarasan, dan bisa bercinta hebat dengan wanita yang punya kemaluan di jidat.
Aku hidup diangka 17. Ulang tahunku dirayakan dengan tutup botol dan balon-balon kondom. Memaknai kebebasan tanpa meminjam tubuh pahlawan atau menyewa kemerdekaan ukuran 4x5 meter, tipe kolonialisme.
Aku tumbuh remaja dilingkungan orang-orang yang berotak sampah, bertubuh jenjang hasil daur ulang si rambut pirang, teman sebayaku si mata tahta yang memakai celana di kepala. Belajar budaya dari orangtua yang tak pernah menikmati es wanita muda.
Akhirnya aku dewasa oleh kelukaan para kaum kebaya, pembawa luka-luka pria perobek 3 warna.
Dan kini aku masih menghirup udara dikehidupan sangsi, diantara kekerasan mesuji, penghinaan pada Nabi, perang batu antar suku dan tuan-tuan yang mempunyai banyak saku.
Aku seakan menjadi pahlawan diantara hujatan bibir kaleng dan cacian iklan kerohanian.
Dalam ruang musium kehidupan bumi pertala, tanahku menyimpan lukisan merah. Diantara kekosongan dan kematian yang dijedakan oleh sebuah kibaran dan selogan kemerdekaan.

0 komentar:

Posting Komentar