Aku lahir dijarak
77 dan 78, disebuah negri yang dihuni mitos-mitos kecemasan. Rakyatnya
raga-raga polos yang dipimpin oleh sikap-sikap pelontos.
Kakekku berkuku
bambu, petarung gunung (seorang patriot yang dianggap negara ini idiot).
Kemudian kakekku mati dan dikubur di samping nisan anjing penjaga tanah kapling.
Nenekku seorang yang lugu, bekerja menjadi babu si mata biru, serdadu yang
senang makan dari piring orang. Tanteku pelacur terhormat, pemuas syahwat para
birokrat. Sedangkan pamanku mucikari para priyai, ahli mengaji ayat-ayat agitasi.
Masa kecilku
dihabiskan dengan tangisan hutan. Menetek di sapi-sapi. Ditimang oleh nyanyian
batuk para datuk.
Aku selalu mencuri-curi
jarum jam, berganti-ganti kebodohan agar aku cepat mencapai kewarasan, dan bisa
bercinta hebat dengan wanita yang punya kemaluan di jidat.
Aku hidup
diangka 17. Ulang tahunku dirayakan dengan tutup botol dan balon-balon kondom.
Memaknai kebebasan tanpa meminjam tubuh pahlawan atau menyewa kemerdekaan
ukuran 4x5 meter, tipe kolonialisme.
Aku tumbuh
remaja dilingkungan orang-orang yang berotak sampah, bertubuh jenjang hasil
daur ulang si rambut pirang, teman sebayaku si mata tahta yang memakai celana
di kepala. Belajar budaya dari orangtua yang tak pernah menikmati es wanita
muda.
Akhirnya aku
dewasa oleh kelukaan para kaum kebaya, pembawa luka-luka pria perobek 3 warna.
Dan kini aku masih
menghirup udara dikehidupan sangsi, diantara kekerasan mesuji, penghinaan pada
Nabi, perang batu antar suku dan tuan-tuan yang mempunyai banyak saku.
Aku seakan
menjadi pahlawan diantara hujatan bibir kaleng dan cacian iklan kerohanian.
Dalam ruang
musium kehidupan bumi pertala, tanahku menyimpan lukisan merah. Diantara
kekosongan dan kematian yang dijedakan oleh sebuah kibaran dan selogan
kemerdekaan.
0 komentar:
Posting Komentar