Selasa, 21 Mei 2013
Minggu, 05 Mei 2013
Jalan itu basah
tanah menggenang
resah
dikutuk jejak
risalah:manusia yang diasuh penjarah
Aku melihat
orang-orang memanggul bara
berjalan menuju
lipatan gedung
dengan kotak-kotak
di punggung
Ternyata negara
ini telah mengambil tanah
jatidiri bumi hilang dari pijakan kaki
mahluk nurani
berubah menyerupai babi
wujud yang dicipta dari ahli pikir pemikir
anyir
Kedewasaan dari kemerdekaan (narasi diri dari negri ini)
Aku lahir dijarak
77 dan 78, disebuah negri yang dihuni mitos-mitos kecemasan. Rakyatnya
raga-raga polos yang dipimpin oleh sikap-sikap pelontos.
Kakekku berkuku
bambu, petarung gunung (seorang patriot yang dianggap negara ini idiot).
Kemudian kakekku mati dan dikubur di samping nisan anjing penjaga tanah kapling.
Nenekku seorang yang lugu, bekerja menjadi babu si mata biru, serdadu yang
senang makan dari piring orang. Tanteku pelacur terhormat, pemuas syahwat para
birokrat. Sedangkan pamanku mucikari para priyai, ahli mengaji ayat-ayat agitasi.
Masa kecilku
dihabiskan dengan tangisan hutan. Menetek di sapi-sapi. Ditimang oleh nyanyian
batuk para datuk.
Aku selalu mencuri-curi
jarum jam, berganti-ganti kebodohan agar aku cepat mencapai kewarasan, dan bisa
bercinta hebat dengan wanita yang punya kemaluan di jidat.
Aku hidup
diangka 17. Ulang tahunku dirayakan dengan tutup botol dan balon-balon kondom.
Memaknai kebebasan tanpa meminjam tubuh pahlawan atau menyewa kemerdekaan
ukuran 4x5 meter, tipe kolonialisme.
Aku tumbuh
remaja dilingkungan orang-orang yang berotak sampah, bertubuh jenjang hasil
daur ulang si rambut pirang, teman sebayaku si mata tahta yang memakai celana
di kepala. Belajar budaya dari orangtua yang tak pernah menikmati es wanita
muda.
Akhirnya aku
dewasa oleh kelukaan para kaum kebaya, pembawa luka-luka pria perobek 3 warna.
Dan kini aku masih
menghirup udara dikehidupan sangsi, diantara kekerasan mesuji, penghinaan pada
Nabi, perang batu antar suku dan tuan-tuan yang mempunyai banyak saku.
Aku seakan
menjadi pahlawan diantara hujatan bibir kaleng dan cacian iklan kerohanian.
Dalam ruang
musium kehidupan bumi pertala, tanahku menyimpan lukisan merah. Diantara
kekosongan dan kematian yang dijedakan oleh sebuah kibaran dan selogan
kemerdekaan.
Jumat, 03 Mei 2013
Tentang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
Sejarah PDIP
Bahwa PDI Perjuangan merupakan partai politik yang
sebenarnya adalah partai yang secara langsung memiliki tali kesejarahan dengan
partai politik masa orde lama. PDI Perjuangan sebenarnya kelanjutan dari Partai
Demokrasi Indonesia yang berdiri pada tanggal 10 Januari 1973. Partai Demokrasi
Indonesia itu lahir dari hasil fusi 5 (lima) partai politik.
Kelima partai politik tersebut yaitu :
1. Partai Nasional Indonesia (PNI)
PNI didirikan Bung Karno tanggal 4 Juli 1927 di Bandung.
Dengan mengusung nilai-nilai dan semangat nasionalisme, PNI kemudian berkembang
pesat dalam waktu singkat. Karena dianggap berbahaya oleh penguasa kolonial,
tanggal 29 Desember 1929 semua kantor dan rumah pimpinan PNI digeledah. Bung
Karno, Maskun, Supriadinata dan Gatot Mangkupraja ditangkap. Berdasarkan
keputusan yang ditetapkan Raad van Justitie tanggal 17 April 1931, mereka
dipidana penjara. Keputusan ini diartikan mencap PNI sebagai suatu organisasi
yang terlarang. Setelah tanggal 3 November 1945 keluar Maklumat Pemerintah
tentang pembentukan Partai Politik. Dengan landasan tersebut, tanggal 29
Januari 1946 di Kediri PNI dibentuk oleh partai-partai yang tergabung dalam
Serikat Rakyat Indonesia atau di kenal dengan Serrindo pada waktu itu, PNI
Pati, PNI Madiun, PNI Palembang, PNI Sulawesi, kemudian Partai Republik
Indonesia Madiun, Partai Kedaulatan Rakyat Yogya, dan ada beberapa lagi partai
kecil lainnya yang berada di Kediri. Fusi ini terjadi ketika ada Konggres
Serrindo yang pertama di Kediri. Dalam Kongres tersebut PNI dinyatakan memiliki
ciri Sosio-Nasionalisne-Demokrasi yang merupakan asas dan cara perjuangan yang
dicetuskan Bung Karno untuk menghilangkan kapitalisme, imperialisme dan
kolonialisme. Pengunaan asas ini diasosiasikan sebagai "kebangkitan
kembali PNI 1927" yang pernah didirikan Bung Karno.
2. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
Parkindo adalah partai yang didirikan karena ada maklumat
pada waktu itu, ia baru berdiri tahun 1945 tepatnya pada tanggal 18 November
1945 yang diketuai Ds Probowinoto.
Parkindo merupakan penggabungan dari partai-partai Kristen
lokal seperti PARKI (Partai Kristen Indonesia) di Sumut, PKN (Partai Kristen
Nasional) di Jakarta dan PPM (Partai Politik Masehi) di Pematang Siantar.
3. Partai Katolik
Partai Katolik lahir kembali pada tanggal 12 Desember 1945
dengan nama PKRI (Partai Katolik Republik Indonesia) merupakan kelanjutan dari
atau sempalan dari Katolik Jawi, yang dulunya bergabung dengan partai Katolik.
Sebenarnya partai ini pada tahun 1917-an itu sudah ada. Partai ini berdiri pada
tahun 1923 di Yogyakarta yang didirikan oleh umat Katolik Jawa yang diketuai
oleh F.S. Harijadi kemudian diganti oleh I.J. Kasimo dengan nama Pakepalan
Politik Katolik Djawi (PPKD). Pada Pemilu 1971 Partai Katolik meraih 606.740
suara (1,11%) sehingga di DPR mendapat 3 kursi.
4. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
IPKI atau Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia adalah
partai yang didirikan terutama oleh tentara. IPKI sejak lahirnya mencanangkan
Pancasila, semangat proklamasi dan UUD 1945 sebagai cirnya. Tokoh dibalik
pendirian IPKI adalah AH. Nasution, Kol Gatot Subroto dan Kol Azis Saleh.
Kelahirannya didasari oleh UU No. 7 tahun 1953 tentang Pemilu 1955.
Dalam pemilu itu anggota ABRI aktif dapat dipilih melalui
pemilu dan duduk di Konstituante. IPKI didirikan pada tanggal 20 Mei 1954
kurang lebih satu tahun sebelum pemilu tahun 1955 yang berlangsung bulan
September. Waktu itu, Jenderal Besar Nasution yang berpangkat kolonel, terlibat
pada peristiwa yang sangat terkenal yaitu peristiwa 27 Oktober.
Kedekatan dengan Golkar, menjelang Deklarasi PDI 1973 IPKI
pernah berpikir untuk bergabung ke Golkar. Tanggal 12 Maret 1970 Presiden
Soeharto memberi jawaban atas permintaan Achmad Sukarmadidjaja bahwa IPKI bisa
bergabung ke Golkar dengan syarat harus membubarkan diri lebih dahulu.
IPKI cukup spesifik dan memiliki dukungan yang konkrit
menurut pemilu 1955 kecuali sedikit di Jawa Barat, demikian juga dengan Murba.
Hanya memiliki dukungan yang sangat sedikit di Jawa Barat kurang lebih
290.000-an orang. Pada Pemilu 1971 IPKI hanya mampu memperoleh 388.403 (0,62 %)
sehingga tidak mendapat satupun kursi di DPR.
5. Murba
Murba didirikan pada tanggal 7 November 1948 setelah Tan
Malaka keluar dari penjara. Murba adalah gabungan Partai Rakyat, Partai Rakyat
Jelata dan Partai Indonesia Buruh Merdeka.Menurut data Kementrian Penerangan RI
tentang "Kepartaian di Indonesia" seri Pepora No. 8, Jakarta, 1981,
istilah Murba mengacu pada pengertian "golongan rakyat yang terbesar yang
tidak mempunyai apa-apa, kecuali otak dan tenaga sendiri".
Asas partai ini antifasisme, anti imperialisme-kapitalisme
dengan tujuan akhirnya mewujudkan masyarakat sosialisme.Meski program Murba
membela rakyat kecil dan kaum tertindas, dukungan riil rakyat terhadap Murba
kurang begitu kuat. Terbukti dalam Pemilu 1971 partai ini tidak memperoleh satu
pun kursi di DPR karena hanya mampu meraih 48.126 suara (0,09 %).
Proses fusi terjadi sebenarnya hanya untuk menjamin
kemenangan kekuatan Orde Baru. Pada saat itu penguasa Orde Baru mengaktifkan
Sekretariat Bersama (Sekber) Golongan Karya (Golkar) yang proses pembentukannya
didukung oleh militer. Tap MPRS No.XXII/MPRS/1966 tentang Kepartaian,
Keormasan, dan Kekaryaan disebutkan agar Pemerintah bersama Dewan Perwakilan
Rakyat Gotong royong (DPR-GR) segera membuat Undang-Undang untuk mengatur
kepartaian, keormasan dan kekaryaan yang menuju pada penyederhanaan. Gagasan
agar supaya fusi untuk pertama kali tahun 1970.
Namun pemerintah Orde Baru saat itu tetap menginginkan
pengelompokan sesuai yang diajukan sebelumnya hingga akhirnya gagasan yang
diusulkan oleh tokoh-tokoh tersebut tidak pernah terwujud.
Pada tanggal 9 Maret 1970 pertemuan pimpinan lima partai
tersebut berlanjut ditempat yang sama dengan agenda pokok yaitu penyelesaian
deklarasi atau pernyataan bersama dan pokok-pokok pikiran selanjutnya. Dalam
pertemuan ini berhasil membentuk tim perumus yang terdiri dari Mh. Isnaeni, M
Supangat, Murbantoko, Lo Ginting dan Sabam Sirait. Tim perumus menghasilkan
"Pernyataan Bersama" yang ditanda tangani oleh ketua partai
masing-masing, yakni Hardi (PNI), M Siregar (Parkindo), VB Da Costa (Partai
Katolik), achmad sukarmadidjaja (IPKI) dan Sukarni (Murba).
Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pada tanggal 10
Januari 1973 tepat jam 24.00 dalam pertemuan Majelis Permusyawaratan Kelompok
Pusat (MPKP) yang mengadakan pembicaraan sejak jam 20.30 di Kantor Sekretariat
PNI di Jalan Salemba Raya 73 Jakarta, Kelompok Demokrasi dan Pembangunan
melaksanakan fusi 5 Partai Politik menjadi satu wadah Partai yang bernama
Partai Demokrasi Indonesia meskipun pada awal fusi sebenarnya muncul 3 (tiga)
kemungkinan nama untuk fusi menjadi :
1. Partai Demokrasi Pancasila
2. Partai Demokrasi Pembangunan
3. Partai Demokrasi Indonesia
Deklarasi ditandatangani oleh wakil kelima partai yaitu MH.
Isnaeni dan Abdul Madjid mewakili Partai Nasional Indonesia, A. Wenas dan Sabam
Sirait Mewakili Partai Kristen Indonesia, Beng Mang Rey Say dan FX.
Wignyosumarsono mewakili Partai Katolik, S. Murbantoko R. J. Pakan mewakili
Partai Murba dan Achmad Sukarmadidjaja dan Drs. Mh. Sadri mewakili Partai
Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Dengan dideklarasikannya fusi
kelima partai tersebut, maka lahirlah Partai Demokrasi Indonesia.
Setelah deklarasi fusi tersebut, selanjutnya untuk memenuhi
poin 3 Deklarasi fusi, dibentuk tim penyusun Piagam Perjuangan, AD/ART,
struktur organisasi dan prosedur yang diperlukan melaksanakan fusi tersebut.
Tim yang dikenal sebagai Tim 10 itu semula diketuai Sunawar
Sukowati (PNI) tapi kemudian diganti Sudjarwo (PNI) karena penugasan Sunawar
sebagai duta besar.
Pada tanggal 13 Januari 1973 Majelis Pimpinan Partai (MPP)
terbentuk, Sabtu 14 Januari 1973 jam 01.20 pagi Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) berhasil menyusun struktur dan personalia Dewan Pimpinan Pusat sampai
terselenggaranya Kongres Nasional. Susunan kepengurusan DPP PDI sebagai berikut
:
I. MAJELIS PIMPINAN PUSAT (beranggotakan 25 orang) :
II. DEWAN PIMPINAN PUSAT (beranggotakan 11 orang)
DPP PDI bersama Tim 10 pada tanggal 8-10 Juni 1973 di Cibogo
Bogor berhasil menyelesaikan AD/ART PDI dan telah disahkan dalam rapat DPP PDI
tanggal 26 Juli 1973 serta dikukuhkan dalam rapat MPP PDI di kediaman hasyim
Ning pada tanggal 4 Agustus 1973.
Sementara Piagam dan Program Perjuangan Partai dikukuhkan
dalam rapat MPP PDI tanggal 19-20 September 1973.
Untuk memenuhi poin 4 Deklarasi Fusi, kelima partai yakni
PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, Murba mengadakan forum internal
masing-masing partai. PNI menyelenggarakan Munas tanggal 27-28 Januari 1973 di
Jakarta yang memutuskan bahwa masalah fusi dengan partai-partai lain tidak
dipersoalkan dan menyetujui kebijakan DPP PNI dalam menghadapi fusi. Parkindo
mengadakan Sidang Dewan Partai VII yang diperluas pada tanggal 8-10 Juli 1973
di Sukabumi hasilnya menyetujui kebijakan DPP Parkindo berfusi dalam PDI.
Kongres I PDI berlangsung dari tanggal 12 - 13 April 1976.
Pelaksanaan Kongres I ini sempat tertunda-tunda akibat adanya konflik internal.
Di dalam Kongres I ini intervensi pemerintah sangat kuat, pemerintah memplot
Sanusi Hardjadinata agar terpilih. Dan hasilnya Sanusi Hardjadinata terpilih
secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP PDI.
Namun Kongres II PDI tetap berlangsung pada tanggal 13-17
Januari 1981 mengambil tema : "Dengan Menggalang Persatuan dan Kesatuan
Dalam Rangka Memantapkan Fusi, Meningkatkan Peranan dan Partisipasi PDI Untuk
Mensukseskan Pembangunan".Di dalam Kongres II ini campur tangan pemerintah
semakin kuat. Meskipun ada keberatan terhadap pelaksanaan Kongres tersebut,
Kongres II PDI tetap berjalan. Pemerintah tetap mengizinkan penyelenggaraan
Kongres tersebut dan Presiden Soeharto yang membuka acara Kongres II PDI. Di
dalam Kongres II PDI menghasilkan kesepakatan-kesepakatan diantara partai-partai
pendukung PDI yang berkonflik. Kongres II PDI akhirnya menyepakati bahwa fusi
telah tuntas.
Akhirnya Kongres III PDI diselenggarakan sebelum Pemilu
yaitu pada tanggal 15-18 April 1986 di Wisma haji Pondok Gede, Jakarta. Kongres
III dapat diselenggarakan karena Sunawar Soekawati meninggal dunia. Di dalam
Kongres ini semaki menegaskan kuatnya ketergantungan PDI pada Pemerintah.
Kongres III PDI gagal dan menyerahkan penyusunan pengurus
kepada Pemerintah. Pada waktu itu yang berperan adalah Mendagri Soepardjo
Rustam, Pangab Jenderal Benny Moerdani dan Menteri Muda Sekretaris Kabinet
Moerdiono. Konflik internal terus berlanjut sampai dengan dilaksanakannya
Kongres IV PDI di Medan.
Kongres IV PDI diselenggarakan tanggal 21-25 Juli 1993 di
Aula Hotel Tiara, Medan, Sumatera Utara dengan peserta sekitar 800 orang. Dalam
Kongres tersebut muncul beberapa nama calon Ketua Umum yang akan bersaing
dengan Soerjadi, yakni Aberson Marle Sihaloho, Budi Hardjono, Soetardjo
Soerjogoeritno dan Tarto Sudiro, kemudian muncul nama Ismunandar yang merupakan
Wakil Ketua DPD DKI Jakarta. Budi Hardjono saat itu disebut-sebut sebagai
kandidat kuat yang didukung Pemerintah. Tarto Sudiro maju sebagai calon Ketua
Umum didukung penuh oleh Megawati Soekarnoputri. Saat itu posisi Megawati belum
bisa tampil mengingat situasi dan kondisi politik masih belum memungkinkan.
Kongres IV PDI di Medan dibuka oleh Presiden Soeharto dan
acara tersebut berjalan lancar. Namun beberapa jam kemudian acara Kongres
menjadi ricuh karena datang para demonstran yang dipimpin oleh Jacob Nuwa Wea
mencoba menerobos masuk ke arena sidang Kongres namun dihadang satuan Brimob.
Acara tetap berlangsung sampai terpilihnya kembali Soerjadi secara aklamasi
sebagai Ketua Umum, namun belum sampai penyusunan kepengurusan suasana Kongres
kembali ricuh karena aksi demonstrasi yng dipimpin oleh Jacob Nuwa Wea berhasil
menerobos masuk ke arena Kongres.
Kondisi demikian membuat pemerintah mengambil alih melalui
mendagri Yogie S Memed mengusulkan membentuk caretaker. Dalam rapat formatur
yang dipimpin Latief Pudjosakti Ketua DPD PDI jatim pada tanggal 25-27 Agustus
1993 akhirnya diputuskan susunan resmi caretaker DPP PDI . Setelah gagalnya
Kongres IV PDI yang berlangsung di Medan, muncul nama Megawati Soekarnoputri
yang diusung oleh warga PDI untuk tampil menjadi Ketua Umum. Megawati
Soekarnoputri dianggap mampu menjadi tokoh pemersatu PDI.
Dukungan tersebut muncul dari DPC berbagai daerah yang
datang kekediamannya pada tanggal 11 September 1993 sebanyak lebih dari 100 orang
yang berasal dari 70 DPC. Mereka meminta Megawati tampil menjadi kandidat Ketua
Umum DPP PDI melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar pada tanggal 2-6
Desember 1993 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.
Dukungan terhadap Megawati semakin kuat dan semakin melejit
dalam bursa calon Ketua Umum DPP PDI. Muncul kekhawatiran Pemerintah dengan
fenomena tersebut. Pemerintah tidak ingin Megawati tampil dan untuk menghadang
laju Megawati ke dalam bursa pencalonan Ketua Umum, dalam acara Rapimda PDI
Sumatera Utara tanggal 19 Oktober 1993 yang diadakan dalam rangka persiapan KLB
muncul larangan mendukung pencalonan Megawati.
Kendati penghadangan oleh Pemerintah terhadap Megawati untuk
tidak maju sebagai kandidat Ketua Umum sangat kuat, keinginan sebagian besar peserta
KLB untuk menjadikan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI tidak dapat dihalangi
hingga akhirnya Megawati dinyatakan sebagai Ketua Umum DPP PDI periode
1993-1998 secara de facto.
Untuk menyelesaikan konflik PDI, beberapa hari setelah KLB,
Mendagri bertemu Megawati, DPD-DPD dan juga caretaker untuk menyelenggarakan
Munas dalam rangka membentuk formatur dan menyusun kepengurusan DPP PDI.
Akhirnya Musyawarah Nasional (Munas) dilaksanakan tanggal 22-23 Desember 1993
di Jakarta dan secara de jure Megawati Soekarnoputri dikukuhkan sebagai Ketua
Umum DPP PDI.
Dalam Munas ini dihasilkan kepengurusan DPP PDI periode
1993-1998. Berakhirnya Munas ternyata tidak mengakhiri konflik internal PDI.
Kelompok Yusuf Merukh membentuk DPP PDI Reshuffle walau
tidak diakui oleh Pemerintah namun kegiatannya tidak pernah dilarang. Disamping
itu kelompok Soerjadi sangat gencar melakukan penggalangan ke daerah-daerah
dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan menggelar Kongres. Dari 28 pengurus
DPP PDI, 16 orang anggota DPP PDI berhasil dirangkulnya untuk menggelar
Kongres.
Ketua Umum DPP PDI, Megawati Soekarnoputri menolak tegas
diselenggarakannya "Kongres", kemudian pada tanggal 5 Juni 1996,
empat orang deklaratir fusi PDI yakni Mh Isnaeni, Sabam Sirait, Abdul Madjid
dan Beng Mang Reng Say mengadakan jumpa pres menolak Kongres.Kelompok Fatimah
Achmad yang didukung oleh Pemerintah tetap menyelenggarakan Kongres pada
tanggal 2-23 Juni 1996 di Asrama Haji Medan dengan didukung penjagaan yang
sangat ketat dari aparat keamanan lengkap dengan panser.
Pagar Asrama Haji tempat kegiatan berlangsung ditinggikan
dengan kawat berduri setinggi dua meter. Disamping itu di persimpangan jalan
dilakukan pemeriksaan Kartu Tanda Penduduk terhadap orang-orang yang melintas.
Warga PDI yang tetap setia mendukung Megawati demonstrasi
secara besar-besaran pada tanggal 20 Juni 1996 memprotes Kongres rekayasa yang
diselenggarakan oleh kelompok Fatimah Achmad, demontrasi itu berakhir bentrok
dengan aparat dan saat ini dikenal dengan "Peristiwa Gambir
Berdarah".
Meskipun masa pendukung Megawati yang menolak keras Kongres
Medan, namun Pemerintah tetap mengakui hasil Kongres tersebut. Pemerintah
mengakui secara formal keberadaan DPP PDI hasil Kongres Medan dan menyatakan
PDI hasil Kongres Medan sebagai peserta Pemilu tahun 1997.
Tanggal 25 Juli 1996 Presiden Soeharto menerima 11 pengurus
DPP PDI hasil Kongres Medan yang dipimpin oleh Soerjadi selaku Ketua Umum dan
Buttu Hutapea selaku Sekretaris Jenderal. Hal ini semakin membuat posisi
Megawati dan para pengikutnya semakin terpojok. Masa pendukung Megawati
mengadakan "Mimbar Demokrasi" dihalaman Kantor DPP PDI di Jalan
Diponegoro hingga pada tanggal 27 Juli 1996, kantor DPP PDI diserbu oleh
ratusan orang berkaos merah yang bermaksud mengambil alih kantor DPP PDI.
Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Peristiwa "Sabtu Kelabu 27
Juli" yang banyak menelan korban jiwa.
Pasca peristiwa 27 Juli, Megawati beserta jajaran
pengurusnya masih tetap eksis walaupun dengan berpindah-pindah kantor dan
aktivitas yang dilakukan dibawah pantauan Pemerintah.
Pada Pemilu 1997 Megawati melalui Pesan Hariannya menyatakan
bahwa PDI dibawah pimpinannya tidak ikut kampanye atas nama PDI. Pemilu 1997
diikuti oleh PDI dibawah kepemimpinan Soerjadi dan hasil Pemilu menunjukan
kuatnya dukungan warga PDI kepada Megawati karena hasil Pemilu PDI merosot
tajam dan hanya berhasil meraih 11 kursi DPR.
Tahun 1998 membawa angin segar bagi PDI dibawah kepemimpinan
Megawati.Di tengah besarnya keinginan masyarakat untuk melakukan reformasi
politik, PDI dibawah kepemimpinan Megawati kian berkibar. Pasca Lengsernya
Soeharto, dukungan terhadap PDI dibawah kepemimpinan Megawati semakin kuat,
sorotan kepada PDI bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar
negeri.Pada tanggal 8-10 Oktober 1998, PDI dibawah kepemimpinan Megawati
menyelenggarakan Kongres V PDI yang berlangsung di Denpasar Bali.
Kongres I PDI Perjuangan akhirnya menetapkan Megawati
Soekarnoputri sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan periode 2000-2005 secara
aklamasi tanpa pemilihan karena 241 dari 243 DPC mengusulkan nama Megawati sebagai
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Setelah Kongres I PDI Perjuangan tahun 2000,
pada tahun 2001 Megawati diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia Ke - 5
menggantikan KH Abdurahman Wahid yang diturunkan dalam Sidang Istimewa MPR-RI.
Diangkatnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI ke - 5 membawa perubahan
pada sikap politik PDI Perjuangan dan cap sebagai partai penguasa melekat di
PDI Perjuangan.
Kongres II PDI Perjuangan diselenggarakan pada tanggal 28 -
31 Maret 2005 di Hotel Grand Bali Beach, Denpasar Bali, tempat dimana Kongres V
PDI diselenggarakan pada tahun 1998.
Kongres ini selesai 2 hari lebih cepat dari yang dijadwalkan
yaitu 28 Maret - 2 April 2005. Menjelang Kongres II PDI Perjuangan
diselenggarakan, sudah banyak muncul nama-nama yang akan maju sebagai calon
kandidat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan antara lain Guruh Soekarnoputra yang
digagas oleh Imam Mundjiat Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur, Laksamana
Sukardi, Roy BB Janis, Arifin Panigoro dan Sophan Sophiaan.
Bahwa sesungguhnya cita-cita luhur untuk membangun dan
mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil, dan
makmur serta berkeadaban dan berketuhanan sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
UUD 1945 merupakan cita-cita bersama dari seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai Partai Ideologis berasaskan Pancasila 1 Juni 1945,
PDI Perjuangan berperan aktif dalam usaha-usaha untuk mencapai cita-cita
bersama di atas.Untuk itu, PDI Perjuangan berketetapan menjadi alat perjuangan
dan pengorganisasian rakyat. Sebagai alat rakyat, PDI Perjuangan bertugas
untuk:
Pertama, mewujudkan amanat penderitaaan rakyat sebagaimana
termaktub dalam cita-cita Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kedua, menjaga dan melaksanakan Pancasila 1 Juni 1945
sebagai dasar dan arah berbangsa dan bernegara; sebagai sumber inspirasi dan
harapan bagi rakyat; sebagai norma pengatur tingkah laku kebijakan, kelembagaan
dan anggota partai; dan sebagai cermin dari keseluruhan jati diri partai.
Ketiga, mengantarkan Indonesia untuk berdaulat dalam bidang politik,
berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan sebagai
syarat-syarat minimum bagi perwujudan cita-cita bersama bangsa di atas.
Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita bersama bangsa, PDI
Perjuangan melaksanakannya melalui pengorganisasian dan perjuangan rakyat untuk
mencapai kekuasaan politik dan mempengaruhi kebijakan dengan cara-cara damai,
demokratis, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945
sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
Membangun masyarakat Pancasila 1 Juni 1945 dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil,
dan makmur;
Menghimpun dan membangun kekuatan politik rakyat;
Memperjuangkan kepentingan rakyat di bidang politik, ekonomi, sosial, dan
budaya secara demokratis; dan berjuang mendapatkan kekuasaan politik secara
konstitusional guna mewujudkan pemerintahan yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dankeadilan sosial.Menjadi alat
perjuangan guna membentuk dan membangun karakter bangsa;
Mendidik dan mencerdaskan rakyat agar bertanggung jawab
menggunakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara;
Menghimpun, merumuskan, dan memperjuangkan aspirasi rakyat
dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara;
Menghimpun, membangun dan menggerakkan kekuatan rakyat guna
membangun masyarakat Pancasila; dan
Melakukan komunikasi politik dan partisipasi politik warga
negara.
Susunan Kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP)
Ketua Umum :
Hj. Megawati Soekarnoputri
Sekretaris Jendral:
Tjahjo Kumolo
Wasekjen Internal:
Eriko Sotarduga
Wasekjen Program:
Achmad Basarah
Wasekjen Kesekretariatan:
Hasto Kristiyanto
Bendahara Umum:
Olly Dondokambey
Bidang Internal:
Rudianto Tjen
Bidang Program:
Juliari Peter Batubara
Ketua Bidang Kehormatan:
Sidharto Danusubroto
Ketua Bidang Politik dan Hubungan antar
Lembaga:
Puan Maharani, S.Si
Ketua Bidang Keanggotan, Kaderisasi dan Rekrutmen:
Idham Samawi
Ketua Bidang Organisasi:
Drs. Djarot Saiful Hidayat MS
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi:
Rano Karno
Ketua Bidang Sumber Daya dan Dana:
Drs. Effendi MS Simbolon, MSi
Ketua Bidang Pertanian, Perikanan dan
Kelautan:
Ir. Mindo Sianipar
Ketua Bidang Kesehatan dan Tenaga Kerja:
dr. Ribka Tjiptaning
Ketua Bidang Pendidikan, Keagamaan dan
Kebudayaan:
Prof. Hamka Haq
Ketua Bidang Industri, Perdagangan, Pengusaha Kecil Menengah dan Koperasi:
Ir. Nusyirwan Soejono
Ketua Bidang Perempuan dan Anak:
Dra. Irianti Sukamdani
Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga:
Maruarar Sirait
Ketua Bidang Perumahan, Infrastruktur dan
Transportasi:
Drs. I Made Urip
Ketua Bidang Energi dan Pertambangan:
Ir. Bambang Wuryanto
Ketua Bidang Kehutanan dan Perkebunan:
Ir. M. Prakosa
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan:
Ir. Emir Moeis
Bidang Hukum, HAM dan Peraturan dan
Perundangan:
Trimedya Panjaitan, SH, MH
Ketua Bidang Pertahanan dan Hubungan
Internasional:
Dr. Andreas Hugo Pareira
Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah:
Komaruddin Watubun
Demikian Gambaran sekilas tentang Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), jika Anda mendukungnya atau memiliki pilihan yang lain dapat
disampaikan melalui Polling partisipasi politik Anda pada Pemilu 2014 atau
melalui Partai Politik Peserta Pemilu Indonesia 2014
Langganan:
Postingan (Atom)

